Resensi Novel Klasik
"Pemuda Minang Yang Penuh Kesabaran"
Judul Buku : Di Bawah Lindungan Ka'bah
Pengarang : Dr. Prof. ( Buya ) HAMKA
Penerbit : PT Bulan Bintang
Tahun Terbit : 1938
Cetakan : Ke- 25, Agustus 2001
Tebal Buku : 80 Halaman
ISBN : 979-418-063-7
Sinopsis :
Konon kabarnya, pada tahun 1927 di Mekkah, terdapat banyak orang yang melaksanakan haji. Pada tahun itu terdapat seorang pemuda yang datang dari Sumatra pada tahun lalu. Hidupnya sangat sederhana, tidak pernah meninggalkan salat, dan tidak suka membuang-buang waktu. Ia juga sangat gemar membaca buku tentang agama, terutama kitab-kitab. Nama pemuda itu adalah Hamid.
Pada awal musim haji, datang sebuah kapal yang terakhir membawa Saleh, sahabat Hamid yang datang dari Padang. Kedatangan sahabatnya itu telah mengubah sifat dan perilaku Hamid. Entah kabar apa yang membuat Hamid menjadi lebih pendiam dan sering menyendiri.
Pada suatu malam, Hamid terlihat sedang duduk seorang diri. Saat itu datang seorang saudara yang baru beberapa bulan ini berada di Mekkah. Saudara baru itu datang kepadanya untuk menanyakan sesuatu hal yang sejak beberapa hari lalu membuatnya bingung. Hamid pun menceritakan kisahnya pada sahabat barunya itu yang telah berjanji untuk merahasiakan kisahnya.
Hamid adalah seorang anak yatim. Hidupnya sangat melarat setelah ditinggal oleh ayahnya. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil bersama dengan sang ibu. Hampir setiap malam ibunya bercerita tentang kebaikan sang ayah dan cita-citanya untuk menyekolahkan Hamid. Karena kemiskinan yang ditimpa, maka Hamid harus bersabar dan ia pun memutuskan membantu ibunya berjualan kue.
Beberapa bulan kemudian, di dekat rumahnya ada sebuah gedung yang diperbaiki setelah ditinggal lama oleh seorang Belanda. Rumah itu sudah dibeli oleh saudagar tua yang bernama Haji Ja'far. Ia tinggal bersama istri dan anak perempuan yang seumuran dengan Hamid. Suatu hari perempuan paruh baya itu memanggil Hamid yang tengah berjualan. Ia rupanya tertarik dengan Hamid. Hamid pun datang ke rumahnya dan berkenalan dengan Mak Asiah, nama perempuan itu.
Mak Asiah pun rupanya ingin berkenalan juga dengan ibu Hamid, maka ia pun meminta Hamid untuk menemui ibu Hamid. Sejak saat itu, Hamid bisa kapan saja datang ke rumah besar itu. Dan lebih membuatnya senang lagi, Hamid akan di sekolahkan bersama dengan Zainab, anaknya. Sangat besar budi Engku Haji Ja'far kepada Hamid hingga ia di sekolahkan sampai MULO. setelah lulus Hamid lebih mempelajari tentang agama sedangkan Zainab masuk dalam pingitan yang merupakan adat Padang.
Setelah tamat sekolah, Hamid berangkat ke Padang Panjang untuk melanjutkan cita-cita ibunya. Ia pun bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama, tetapi ia merasa kesepian. Setelah beberapa bulan, akhirnya ia merasa senang karena bertemu dengan sang ibu dan keluarga Haji Ja'far untuk mengucapkan terima kasih. Ketika berhadapan dengan Zainab, ia seperti orang bodoh. Setelah beberapa saat terdiam barulah Zainab angkat bicara.
Setelah bulan puasa selesai, Hamid pun kembali ke Padang Panjang. Sebelum berangkat, ia datang menemui Haji Ja'far. Beliau pun menasihati Hamid.
Setelah beberapa lama kemudian, tiba-tiba datang musibah besar menimpa gedung besar itu. Engku Haji Ja'far yang dermawan itu meninggal dunia. Belum berapa lama setelah kabar itu, datang lagi kabar dari ibu Hamid yang tertimpa sakit. Mak Asiah dan Zainab yang mengetahuinya pun segera menjenguk ibu Hamid.
Suatu hari tampak ibu Hamid berbicara pada anaknya. Ibu Hamid mengetahui bahwa Hamid menyukai Zainab, maka ia menasihati Hamid untuk menghilangkan perasaan suka pada Zainab. Hamid pun menyadari bahwa ia tidak pantas untuk mencintai adiknya sendiri, tetapi hatinya tidak bisa menolak kehadiran Zainab di hidupnya. Tak lama setelah nasihat itu, akhirnya ajal menjemput ibunya. Hamid pun tinggal sebatang kara di dunia ini.
Pada suatu sore, Hamid tengah berjalan-jalan di Pesisir Arau. Tampak ia melihat perahu datang dari sebrang. Ia melihat beberapa perempuan tua dan seorang diantaranya adalah Mak Asiah. Perempuan itu pun melihat Hamid lalu menyapanya. Dan menanyakan kabarnya dan perihal Hamid yang sudah lama tidak ke gedung besar itu semenjak ibunya meninggal.
Mak Asiah pun mengajak Hamid untuk berkunjung ke rumahnya besok. Maka Hamid pun menepatinya dengan berkunjung ke rumah yang sudah menjadi kenang-kenangannya bersama dengan Zainab dan keluarganya. Di sana ia disambut oleh Zainab yang membukakan pintunya. Nampak Zainab terlihat bersemu merah karena bisa bertemu dengan Hamid. Hamid pun seperti orang bodoh yang hanya diam tanpa bersuara. Sampai akhirnya datang Mak Asiah dari dalam yang menyambutnya dengan suka cita untuk mempersilahkan Hamid masuk.
Mak Asiah pun sedikit bercerita tentang telatnya ia menepati janji karena membantu kerabat yang tengah ada acara. Lalu ia pun memulai topik pembicaraan mengenai maksud ia meminta Hamid ke rumahnya. Mak Asiah meminta bantuan pada Hamid untuk membujuk Zainab agar mau di kawinkan dengan kemenakan almarhum ayahnya. Zainab yang tadinya malu-malu menjadi berubah sedih. Ia pun menolak permintaan Hamid sambil menangis. Mak Asiah terdiam sedangkan Hamid tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah peristiwa itu, Hamid mulai melepaskan hatinya pada Zainab. Tetapi hatinya masih bimbang dengan perasaan hati Zainab yang menurut Hamid juga menyukainya. Ia pun memutuskan untuk memulai hidup baru dengan merantau ke Medan. Setelah sampai di Medan, Hamid untuk pertama kalinya membuat surat untuk Zainab. Ia memberanikan diri menulis surat yang berupa isi hatinya pada Zainab. Tidak lama setelah berada di Medan, ia pun pergi ke Singapura, mengembara ke Bangkok dan berakhir di Mekkah. Hamid pun lama-lama melupakan masa lalunya dulu di tanah Padang.
Setelah setahun berada di Mekkah dan bulan haji telah datang, ia dipertemukan oleh sahabat lamanya Saleh yang dulunya sama-sama bersekolah agama di Padang Panjang. Kedatangannya telah mengingatkan Hamid tentang masa lalunya yaitu Zainab. Saleh menceritakan tentang dirinya yang sudah menikah dengan Rosna yang juga merupakan teman Zainab dulu. Saleh bercerita bahwa Zainab juga mencintai Hamid. Sejak kepergian Hamid, Zainab sering sakit-sakitan. Hamid juga mengetahui bahwa Zainab tidak jadi menikah dengan kemenakan ayahnya karena suatu alasan.
Setelah mendengar berita dari Saleh, Hamid memutuskan untuk kembali ke Padang setelah menunaikan ibadah haji. Sementara itu, Saleh mengirim surat kepada Rosna tentang pertemuannya dengan Hamid dan rencana Hamid untuk balik ke kampung setelah menunaikan ibadah haji.
Rosna yang mendapatkan surat itu segera memberikannya pada Zainab. Ketika membacanya Zainab sangat senang hati dan tak sabar menunggu kedatangan Hamid. Ia pun segera membalas surat itu yang isinya merupakan ungkapan hatinya. Setelah surat itu sampai di tangan Hamid dan telah dibaca, Hamid pun merasa gembira dan tidak sabar ingin bertemu Zainab secepatnya.
Walaupun kondisinya sakit-sakitan ia pun memaksakan diri untuk menunaikan ibadah haji dengan penuh semangat. Namun sepulang melakukan wukuf di Padang Arafah, kondisinya semakin melemah. Pada saat yang sama, Saleh mendapat kabar buruk dari Rosna bahwa Zainab telah meninggal dunia. Saleh pun tidak memberitahukan kepada Hamid karena kondisinya yang tengah sakit parah. Namun Hamid mendesaknya untuk menceritakan surat tersebut.
Betapa terpukulnya hati Hamid mendengar kabar itu, namun ia tetap kuat menerima kenyataan pahit yang menimpanya dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Keesokan harinya, Hamid tetap melanjutkan untuk berangkat ke Mina dalam kondisinya yang semakin lemah. Namun dalam perjalanannya, ia terjatuh sehingga Saleh mengupah orang Baduy untuk memapahnya.
Setelah selesai di Mina, keduanya berangkat menuju Masjidil Haram. Ketika mereka mengelilingi Ka'bah, Hamid meminta untuk berhenti di Kiswah. Ia memegang Kiswah itu sambil berkata "Ya, Rabbi, ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyanyang" beberapa kali hingga suaranya melemah dan akhirnya Hamid pun meninggal dunia di hadapan Ka'bah. Ia pun langsung dikuburkan di Pekuburan Ma'ala yang masyhur.
Kelebihan :
Novel ini sangat menarik dan sangat mengharukan. Novel ini juga menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda miskin dengan seorang anak hartawan yang saling mencintai tetapi harus terpisah karena takdir
Kekurangan :
Bahasanya sulit dipahami karena menggunakan Bahasa Melayu Minang. Ada beberapa kata yang tidak mengerti artinya dan juga kertas yang digunakan berbahan tipis sehingga mudah terlepas.
Penilaian :
Novel ini banyak mengandung pesan moral yang patut diteladani oleh pembaca. Novel ini juga mengajarkan kita untuk kuat dan sabar dalam menghadapi persoalan dan cobaan hidup, mentaati orang tua serta tidak cepat putus asa dan tetap berpegang teguh pada agama. Novel ini layak dibaca oleh kalangan anak remaja maupun dewasa, bahkan orang tua karena ceritanya yang menarik.

Comments